Hai, Sahabat CC!

Setelah lebih dari 2 bulan belajar di rumah, bagaimana kondisi anak-anak Anda sekarang? Apakah adaptasi mereka berjalan lancar? Mari kita cek secara sederhana.

A. Senang dan sangat menikmati waktunya di rumah.

Dapat ditandai dengan lebih sering menampakkan emosi positif (senang, bersemangat, tertarik pada sesuatu, tertawa, menikmati humor, dan sebagainya) daripada emosi negatif (marah, sedih, takut, dan sebagainya). Bisa jadi anak tidak pernah atau jarang sekali membicarakan tentang kerinduannya pada sekolah, dan mereka selalu punya cara mengisi waktunya di rumah dengan kegiatan yang mereka sukai. Di sisi lain, mereka kurang bersemangat jika harus mengerjakan tugas sekolah, belajar, atau mengikuti ujian.

B. Rindu sekolah namun tidak masalah jika harus belajar dari rumah.

Dapat ditandai dengan masih sering bicara tentang sekolah secara positif, mungkin ada pula yang bertanya kapan sekolah akan dimulai kembali. Anak juga relatif dapat mengikuti proses belajar di rumah dengan baik dan tidak sulit diajak menyelesaikan tugas dari sekolah. Beberapa bahkan menunjukkan antusiasme yang tinggi setiap kali sesi belajar di rumah dimulai. Mereka tampaknya sudah mampu menyesuaikan diri dengan rutinitas baru serta tertarik jika orang tua menawarkan beragam kegiatan untuk mengisi waktu kosong mereka.

C. Tidak bahagia dan tertekan.

Dapat ditandai dengan sering mengeluh, misalnya merasa bosan dan kesepian. Mudah marah, menangis, ataupun mengalami mood swing. Bisa pula anak jadi sering menyendiri atau tidak ingin melakukan apa-apa. Ada pula yang kehilangan selera makan atau mengalami gangguan tidur. Anak-anak lain bisa jadi menunjukkan kecemasan dengan berusaha menarik perhatian kita yang seringkali kita artikan sebagai kenakalan. Anak-anak yang lebih besar mungkin akan bicara dengan kita secara langsung tentang kecemasan atau perasaan yang mengganggunya.

Kalau hasil pengamatan Anda menunjukkan C, Anda tidak sendiri.

Dalam survey yang dilakukan oleh Save the Children terhadap 6000 anak dan orang tua di Amerika Serikat, Jerman, Finlandia, Spanyol, dan Inggris, lebih dari 65% anak merasakan bosan dan terisolasi. (sumber)

Survey tersebut juga mengungkapkan:

  • Hampir setengah anak (49%) yang diwawancarai di Amerika Serikat menyatakan mereka merasa khawatir, 34% merasa takut, dan 27% merasa cemas.
  • 70% partisipan anak di Finlandia mengaku mengalami perasaan cemas dan 55% diantaranya merasa lelah.
  • Di Inggris, 20% anak yang diwawancarai merasa khawatir tentang masa depan karena sekolah terpaksa ditutup, dan hampir 60% dari mereka khawatir akan tertular penyakit.
  • Di Jerman, sepertiga dari  anak-anak menyatakan mereka khawatir tidak dapat menuntaskan pendidikan mereka tahun ini.  
  • Sementara di  Spanyol, di mana wawancara dilakukan pada sekitar 2.000 keluarga berpenghasilan rendah, lebih dari 25% menyatakan anak-anak mereka menunjukkan level stres yang lebih tinggi dari sebelumnya dan banyak yang mengaku bahwa anak-anak mereka mengalami ketakutan serta kegelisahan menyangkut kondisi yang dialami keluarganya.

Orang tua di berbagai belahan dunia dihadapkan pada kondisi yang sulit. Jika sekolah segera dibuka, khawatir berdampak pada kesehatan dan keselamatan anak. Namun jika tidak kunjung dibuka, kesehatan mental anak juga dapat terganggu.

Sisi baiknya, ada hal-hal yang dapat dilakukan orang tua untuk menjaga kesehatan mental anak jika school from home masih akan berlanjut lebih lama. Salah satunya yang akan kita bahas kali ini adalah memberikan mereka waktu dan kesempatan untuk bermain.

Hubungan Bermain Dengan Penyaluran Emosi

“Dari tadi main terus, kapan belajarnya?”, begitu mungkin sebagian di antara kita kalau mengomentari anak yang semenjak SFH kelihatannya hanya bermain saja. Eh, padahal bermain itu sendiri adalah proses belajar lho buat anak-anak kita, Sahabat. Belajar menyelesaikan masalah, berkomunikasi, belajar tentang peraturan, mengembangkan kreativitas dan imajinasi, bahkan bisa meredakan stres dan emosi negatif.

Dr. Wendi Russel dari University of Gloucestershire mengatakan bahwa bermain merepresentasikan momen dimana hidup terasa lebih baik. Saat bermain, anak dapat mengatur ulang dunia untuk membuatnya tidak terlalu menakutkan atau membosankan.

“The opposite of play is not work but depression”
(Sutton – Smith, 2003)

Brian Sutton-Smith, penulis buku Play for Life: Play Theory and Play as Emotional Survival melihat bermain sebagai cara mengekspresikan bahkan menyalurkan emosi. Contohnya bermain games kompetitif dapat menjadi penyalur emosi marah sedangkan bermain pura-pura (role play) membangkitkan fantasi dan menggambarkan hal-hal yang membuat kita senang/ bahagia. Tak heran, jika dalam dunia psikologi ada yang disebut play therapy, yaitu terapi yang menggunakan bermain sebagai metodenya.

Memilih Permainan Yang Tepat

Nah, agar tak salah memilih, permainan seperti apa yang dibutuhkan anak di masa pandemi semacam ini?

  • Pilih permainan yang sesuai dengan minat dan usia anak.

Jika anak tidak menyukai permainan tersebut, anak bukannya senang malah makin stres. Begitu pula dengan tingkat kesulitan. Jika mainan tidak ditujukan untuk usianya, maka anak akan merasa bosan atau justru frustasi saat bermain.

  • Melibatkan orang lain (yang sebaya maupun orang dewasa).

Solitary play (bermain sendiri) adalah bagian dari tahapan bermain. Biasanya dilakukan saat anak masih berusia di bawah 2 tahun dimana mereka sangat tertarik mengeksplorasi lingkungan dan benda-benda di sekitarnya. Namun dalam masa pandemi ini, kita harus ingat bahwa anak kehilangan kesempatannya untuk bersosialisasi. Maka penting sekali anak memiliki teman bermain agar ia tidak kehilangan kemampuan sosialnya, terutama saat nanti kembali ke sekolah.

  • Berikan kesempatan untuk bermain bebas (free play).

Bermain bebas berarti anak dapat memilih apa yang ingin ia mainkan tanpa struktur yang mengikat. Free play sangat dinikmati oleh anak, meningkatkan rasa percaya diri dan sense of control, juga membantu mereka mengekspresikan diri. Gunakan mainan yang open ended yaitu yang dapat dimainkan dengan berbagai cara serta hasil akhirnya bermacam-macam. Misalnya lego atau balok, bola, playdough, alat tulis dan menggambar, boneka, dan sebagainya.

  • Berikan waktu khusus untuk bermain di luar ruangan.

Bermain di alam bebas secara langsung berpengaruh untuk menurunkan stres pada anak sekaligus meningkatkan kemampuan anak mengatur emosinya. Jangan lupa untuk selalu mengikuti protokol kesehatan ya, Sahabat.

  • Pilihkan permainan yang membuat mereka cukup bergerak.

Misalnya bermain kejar-kejaran, berolah raga, memanjat, menari, dan seterusnya. Bergerak dikenal dapat merangsang hormon dopamin dan serotonin yang berhubungan dengan regulasi emosi. Berlimpahnya hormon ini berpengaruh positif pada kemampuan belajar, kemampuan mengingat, juga tidur yang lebih nyenyak dan selera makan yang membaik. Sementara jauhkan dulu gadget karena tidak merangsang perkembangan motorik kasar anak.

  • Role play atau bermain peran juga dapat membantu anak mengekspresikan kecemasannya.

Misalnya buat skenario berpura-pura menjadi dokter dan pasien. Manfaatkan untuk menggali pengetahuan dan perasaan anak tentang kondisi pandemi saat ini. Dan sebetulnya apapun skenarionya, kita dapat menyelipkan pesan-pesan positif di tengah permainan, misalnya kita dapat berdoa saat merasa takut, bercerita pada teman bila sedang cemas, dan sebagainya.

Itulah beberapa panduan untuk membantu kita memilihkan permainan bagi anak. Mengenai berapa lama anak dapat bermain, orang tua dapat menetapkan sesuai dengan usia dan rutinitas anak yang lain. Pastikan untuk menyeimbangkan waktu bermain dan belajar, serta waktu istirahat anak tidak terganggu.

Jika Anda melihat kondisi anak sudah mengarah ke depresi, ada baiknya berkonsultasi dengan psikolog anak.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

9 + 1 =