Dunia anak tidak bisa dilepaskan dengan benda yang kita sebut mainan. Bermain dan anak merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Aktivitas bermain dilakukan anak dan aktivitas anak selalu menunjukkan kegiatan bermain. Anak belajar melalui kegiatan yang kita sebut bermain tadi.

Kembali ke dunia anak, apa sebenarnya yang mereka lihat dari sebuah mainan atau permainan? Saya memperhatikan anak kedua saya, Dzaki (usia 4 tahun), yang sejak usia 1 tahun sangat suka bermain di dalam maupun luar ruang. Objek mainannya pun variatif dan bisa dibilang dia lebih suka bermain memanfaatkan benda-benda yang ada di rumah, seperti sapu lidi, sapu ijuk, pengki, handsfree, plastik, daun, batang kayu dan lain sebagainya. Mainan yang dahulu saya belikan untuk sang kakak, seperti mobil-mobilan, robot-robotan, bola bisa dibilang tidak menarik baginya. Apakah ada yang salah dengan anak seperti Dzaki, tentu tidak karena kembali kita mesti ingat bahwa setiap anak diciptakan Tuhan dengan unik.

Dzaki, usia 4 tahun

Sahabat CC, dalam dunia anak, mainan atau permainan seringkali tidak sama dengan definisi mainan atau permainan yang dimiliki oleh orang dewasa. Secara sadar atau tidak, ketika saya melihat Dzaki bermain lidi, saya sering mematikan imajinasinya dengan mengatakan, “Jangan main lidi Nak, nanti kena mata.” Padahal ketika saya perhatikan lebih lanjut, ternyata dia sedang berimajinasi bermain tongkat ajaib. Dilain waktu ketika dia memegang handsfree yang biasa saya gunakan untuk bekerja, saya mengatakan, “Jangan main handsfree Ayah nak, nanti handsfree Ayah rusak.” Padahal ketika saya perhatikan lebih lanjut ternyata dia sedang berimajinasi sedang bermain layang-layang.

Imajinasi sesungguhnya adalah sesuatu yang membebaskan, namun bagi kita orang dewasa seringkali imajinasi kita menjadi terkungkung karena kita harus berhadapan dengan norma dan aturan yang berlaku di kehidupan kita, sehingga yang muncul akhirnya adalah sebuah kebiasaan yang diterima oleh norma dan aturan yang berlaku.

Kembali ke mainan atau permainan, pada usia anak – anak kegiatan bermain akan berpengaruh besar sekali bagi perkembangan dirinya. Jika pada orang dewasa sebagian besar kegiatannya diarahkan pada pencapaian tujuan dan prestasi dalam bentuk kegiatan kerja, maka kegiatan anak sebagian besar dalam bentuk bermain. Melalui kegiatan bermain inilah anak-anak akan belajar, melalui gerakan – sentuhan – lompatan yang dia lakukan, yang dapat mendatangkan rasa senang di hati mereka. Mungkin kita sebagai orang dewasa berpendapat, “Main apa sih kamu, Nak?”, namun sesungguhnya di sisi anak mereka sedang berlatih untuk melakukan kegiatan dengan sadar, penuh minat dan usaha yang sungguh-sungguh, yang nantinya akan bermanfaat ketika mereka memasuki usia sekolah di tahap perkembangan usia selanjutnya.

Sebagai orang tua, sebagai seorang Ayah khususnya saya mendorong Sahabat CC untuk meluangkan waktu bermain bersama anak-anak khususnya anak usia balita. Karena melalui kegiatan bermain bersama mereka, seyogianya kita sedang melakukan stimulasi-stimulasi kepada mereka agar mereka bertumbuh kembang secara optimal, baik dari fisik, emosi dan afeksi.

Mari kita fokus pada kegiatannya, kebersamaannya bukan kepada mainannya. Bisa jadi kita sebagai orang dewasa sangat menyukai mainan tertentu seperti mobil-mobilan atau robot, tetapi boleh jadi mainan tersebut bukanlah mainan yang dibutuhkan dan diinginkan oleh anak kita. Kita berikan kesempatan kepada anak kita untuk memilih dan mengembangkan imajinasi mereka, menggunakan hal atau benda yang ada di sekelilingnya untuk kegiatan bermain yang mereka lakukan.

Bolehlah kita sesekali bertanya kepada mereka, “Kamu sedang bermain apa, Nak?”. Atau “Handsfree ini kamu bayangkan sebagai apa?”. Bisa pula “Lidi ini ceritanya kamu jadikan sebagai apa?”. Niscaya kita sebagai orang tua akan merasa takjub dengan jawaban spontan dari mulut mungil mereka, seperti yang diungkapkan Dzaki beberapa waktu lalu. “Dzaki lagi main layang-layang Ayah, handsfree ini benangnya.”, “Ini bukan lidi Ayah, ini pedang.”. Imajinasi mereka bisa membuat kita senyam-senyum sendiri.

Jadi Sahabat CC, bermain bagi anak usia balita bukan sekedar keinginan, melainkan sebuah kebutuhan. Melalui bermain, anak melakukan eksperimen-eksperimen tertentu dan bereksplorasi, sambil menguji kesanggupan dirinya. Melalui permainan, anak mendapatkan bermacam-macam pengalaman, baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan, disini dia belajar meregulasi perasaan hatinya. Semua pengalaman yang diperoleh dari kegiatan bermain akan memberi dasar yang kokoh dan kuat bagi pencapaian berbagai macam keterampilan di masa yang akan datang, yang sangat diperlukan bagi pemecahan kesulitan hidup dikemudian hari.

Sudahkah Anda bermain bersama anak Anda hari ini?

Referensi:
Mayke S. Tedjasaputra, 2001. Bermain, Mainan, dan Permainan. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Widiasarana Indonesia.
Mayke Sugianto. Bermain, Mainan dan Permainan, Jakarta : Dirjen Pendidikan Tinggi, 1995.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here