“Ayo sana salam sama Nenek”, pinta seorang ibu kepada anaknya yang malu untuk menyalami sang nenek. Di situasi yang lain “Ayo nak makan dulu, nanti kamu sakit kalau tidak makan”, ucap seorang ibu sambil mengejar anaknya yang sedang berlari. Begitulah cuplikan dari keseharian membesarkan anak balita.

Contoh lainnya adalah mengintervensi ketika anak sedang mengalami konflik, misalnya saat berebut mainan dengan temannya. Seringkali kita langsung menentukan solusi tanpa mengarahkan anak-anak menemukan sendiri solusi dari konflik yang terjadi di antara mereka.

Sebagai orangtua kadang kita lupa kalau sedang berhadapan dengan seorang anak. Tidak jarang juga kita melakukan kekeliruan dalam memahami anak balita, khususnya para orangtua yang pertama kali memiliki anak.

Ironisnya, banyak kesalahan yang dilakukan demi melindungi anaknya karena rasa khawatir yang berlebihan.

Kita terlalu sibuk mengkhawatirkan anak sehingga melupakan proses belajar dan perkembangan diri mereka. Masalah makan misalnya, kita cenderung khawatir anak menjadi sakit dan akan segera menyuapi sehingga ia pada akhirnya tidak merasa perlu untuk bisa makan sendiri atau mengenal alarm tubuhnya ketika merasa lapar.

Akhirnya, kita mengalami kelelahan mental karena selalu merasa khawatir pada anak tanpa alasan tepat. Selain itu. campur tangan orangtua yang berlebihan juga bisa menyebabkan anak menjadi tidak mandiri, memperlambat proses tumbuh kembang, dan tidak memiliki rasa kepercayaan diri karena ekspektasi orangtua yang terlalu tinggi.

Berikut ini adalah beberapa kiat supaya orang tua bisa berdamai dengan dirinya sendiri sekaligus menumbuhkan kemandirian kepada anak balita dan mengurangi tekanan yang tidak diperlukan terhadap sang anak:

a. Pahami bahwa setiap anak berbeda
Anak saya, anak dia, anak Anda tentunya berbeda karena berasal dari orangtua yang berbeda dan berada di dalam lingkungan yang berbeda pula. Tentunya tidak adil bagi anak untuk merasakan tekanan hanya karena kita menginginkan anak kita seperti anak orang lain.

b. Terima anak apa adanya
Setiap anak memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Untuk orangtua yang memiliki balita, tentunya selain harus bisa menerima perkembangan fisik anak, kita pun harus bisa menerima setiap kekurangan dan keterbatasan perkembangan kognitif anak kita.

c. Gunakan sudut pandang anak
Seringkali kita lupa bahwa anak kita hanyalah anak-anak. Kemampuan motoriknya masih dalam proses perkembangan, rentang fokus yang singkat, membutuhkan kegiatan fisik seperti berlari, melompat, menari, memanjat, dan sebagainya untuk menyalurkan energi mereka. Mereka pun belum memahami lingkungan sekitarnya sebagaimana orang dewasa melihatnya.

Daripada mengatai sang anak dengan kata-kata yang negatif, seperti ‘nakal’, sebaiknya kita mengarahkan anak untuk melakukan kegiatan yang bermanfaat melalui permainan yang melibatkan kegiatan fisik.

d. Biarkan anak berbuat salah
Berikan anak kesempatan untuk berani melakukan kesalahan. Berikan tanggapan yang membangun terhadap kegiatan yang dilakukannya meskipun ia belum melakukannya dengan baik. Kebiasaan seperti ini akan memberikan rasa aman kepada anak untuk melakukan kesalahan dan dapat meningkatkan rasa percaya diri terhadap anak.

e. Perbanyak observasi dan kurangi intervensi
Ketika anak sedang berkonflik dengan temannya, sebaiknya orangtua menghindari untuk ikut campur secara langsung (selama tidak terjadi kontak fisik yang membahayakan anak-anak tersebut). Jika ingin melerai, sebaiknya orangtua mencoba mendengarkan dari kedua belah pihak dan mengarahkan anak-anak bagaimana menemukan solusi dari masalah yang mereka hadapi.

f. Jangan menuntut anak untuk “tampil”
Tanpa disadari, kita sering menuntut anak untuk “tampil” supaya terlihat baik. Misalnya, menyuruh anak untuk selalu mengucapkan terima kasih atau mencium tangan orang lain sedangkan hal tersebut tidak pernah dijadikan kebiasaan di dalam keluarga. Apabila dipaksakan, akan memberikan tekanan tersendiri bagi anak. Sebaiknya kebiasaan baik ditanamkan dengan contoh dan pembiasaan di lingkungan terdekat anak, sehingga sang anak akan melakukannya dengan otomatis ketika berinteraksi dengan orang lain.

g. Perilaku anak adalah cerminan dari perilaku di sekelilingnya
Sebelum memberikan penghakiman terhadap kesalahan anak, ada baiknya orangtua melakukan observasi dari sudut pandang orangtua. Kita harus menyadari bahwa anak belajar dengan meniru orang-orang di sekitarnya. Seringkali cara memperbaikinya adalah dengan cara mengubah kebiasaan orang-orang di sekitarnya untuk berhenti melakukan hal yang kita anggap sebagai sumber masalahnya. Anak yang tidak pernah mengucapkan ungkapan “terima kasih”, akan melakukannya jika sang anak sering mendengar ungkapan tersebut digunakan di sekelilingnya.

h. Setiap kejadian adalah kesempatan belajar
Sikapi setiap kejadian sebagai bagian keseharian yang tidak akan ada akhirnya. Gunakan setiap kejadian sebagai kesempatan belajar bersama anak sekaligus melakukan refleksi terhadap nilai yang telah tumbuh di dalam diri sang anak. Kejadian baik ataupun kejadian buruk tentunya memiliki nilai-nilai yang bisa kita dipelajari bersama anak.

Setiap anak memiliki masa perkembangan yang berbeda baik secara fisik maupun kognitif, tentunya hal ini dipengaruhi oleh faktor internal, seperti rangsangan yang diberikan kepada sang anak di lingkungan keluarga inti dan faktor eksternal berupa kebiasaan yang terjadi di lingkungan sekitar anak. Ciptakan sebuah kebiasaan yang baik melalui keseharian keluarga.

Memahami anak kita sama halnya dengan memahami diri kita sendiri. Nikmati setiap saat bersama anak dan tumbuhlah bersamanya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

77 − 76 =