Upaya mengenalkan hukum secara benar kepada anak ternyata tidak mudah. Tantangan itu segera muncul mengingat sifat ilmu hukum yang sui generis, atau sesuatu yang khas dan harus dipelajari sebagai ilmu tersendiri, belum lagi sifat hukum yang selalu berubah dan semakin kompleks. Jangankan ayah-bunda atau pendidik yang tidak mengenyam pendidikan hukum, mereka yang berkecimpung di bidang hukum sekalipun sepintas lalu akan merasa tidak mampu mengenalkan hukum kepada anak karena kompleksitasnya.

Menghadapi berbagai kerumitan hukum yang menghambat pembelajaran kita terhadap hukum yang berjalin berkelindan juga menghambat upaya pengenalan hukum pada anak itu selayaknya tidak membuat kita putus asa. Untuk memulai upaya mengenalkan hukum pada anak memang membutuhkan upaya ekstra khususnya orang tua. Berikut adalah beberapa cara mudah –setidaknya yang tidak terlalu menyulitkan- untuk mengenalkan hukum kepada anak:

Pertama, noblesse oblige, penghargaan menuntut tanggungjawab. Menyandang status orang tua atau pendidik ternyata tidak segampang yang dibayangkan.

Orang tua dan pendidik yang baik selayaknya menyiapkan anaknya untuk mampu menghadapi tantangan hidupnya sendiri, bukan mengulang tantangan hidup yang pernah dijalani orang tuanya.

Karenanya, orang tua dan pendidik memang harus meluangkan waktu ekstra untuk belajar mengenal hukum. Setidak-tidaknya hukum mengenai perlindungan dan hak-hak anak, karena hak anak kita sebagian besar akan dipenuhi dan diperjuangkan oleh orang tua, bukan oleh anak itu sendiri.

Kedua, kenalkan hukum dengan dasar-dasarnya. Mengenalkan hukum tidak sama dengan mengenal undang-undang. Anak-anak apalagi usia dini tidak selayaknya dikenalkan dengan pasal-pasal yang bahkan memusingkan bagi orang dewasa. Kepada mereka cukup dengan dikenalkan kepada nilai-nilai yang mendasari hukum yaitu kebenaran dan keadilan baru kemudian dikenalkan pada asas-asas hukum. Sebagai langkah awal, ayah-bunda atau pendidik mungkin bisa mulai membaca legal maxims atau ungkapan-ungkapan hukum yang saat ini bisa diakses dengan amat mudah di banyak situs-situs internet.

Lalu bagaimana jika pemahaman kita terhadap asas-asas atau ungkapan-ungkapan hukum itu ternyata berbeda bahkan bertentangan dengan undang-undang? Jika menghadapi situasi seperti ini ayah-bunda atau pendidik tidak perlu khawatir karena pada prinsipnya seluruh peraturan perundang-undangan disusun dengan mengacu pada nilai keadilan dan asas-asas hukum itu. Sehingga tidak perlu ragu untuk mengatakan bahwa aturan yang bertentangan dengan keadilan dan asas-asas hukum tersebut salah karena bertentangan dengan keadilan dan asas-asas hukum.

Ketiga, kenalkan hukum kepada anak melalui sikap kita terhadap kejadian sehari-hari di rumah. Misalnya, apabila si adik bertengkar dengan kakak, jangan buru-buru marah atau menegur tanpa terlebih dahulu kita bertanya kepada keduanya. Jika ayah-bunda bertanya terlebih dahulu kepada keduanya sebelum mengambil kesimpulan, ayah-bunda sebenarnya sedang mendemontrasikan sebuah asas hukum kepada anak yaitu asas audi et alteram partem, mendengar kedua belah pihak yang berselisih;

Keempat, kenalkan hukum secara bertahap kepada anak-anak. Hampir tidak mungkin mengilustrasikan pada anak di usia dini bahwa secara hukum 200 juta lebih rakyat Indonesia “dipadatkan” dan diwakili oleh 692 anggota MPR yang terdiri dari 560 orang Anggota DPR dan 132 Anggota DPD. Karenanya, ayah-bunda dan pendidik yang paling mengerti dengan tahap perkembangan buah hati atau anak didiknya harus jeli mengenalkan hukum melalui tahapan-tahapan dan bahasa yang sesuai dan dimengerti anak.

Sebagai penutup, apakah hukum (baik asas-asasnya, atau sejarahnya, atau pengantarnya) mulai dapat dikenalkan kepada anak usia sekolah khususnya SLTP atau SLTA sebagai materi pelajaran tersendiri di sekolah? Saya kira pemerhati pendidikan dan perkembangan anaklah yang selayaknya menjawab. Jika materi jawabannya tidak tersedia lengkap, ada baiknya studi mendalam ke arah itu dilakukan mengingat kebutuhan anak-anak kita akan perlindungan hukum, dan akan tiba waktunya kelak hukum kita membutuhkan anak-anak hari ini sebagai penegak hukum di masa depan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

− 1 = 2