“Ayo, coklatnya dibagi dong ke temennya.. ga boleh pelit, nanti ga punya temen lho”, kata Ibu kepada Nino (usia 3,5 tahun)

Saat artikel ini dibuat, hari raya Idul Adha tinggal sehari lagi. Selain untuk tujuan ibadah, bagi orang dewasa ikut berkurban juga menunjukkan kepedulian sosial yang tinggi untuk berbagi. Dapatkah kesenangan berbagi ini ditumbuhkan sejak kecil?

Berbagi adalah bagian dari perkembangan moral. Antara anak usia prasekolah dengan anak usia sekolah, tujuan berbaginya bisa berbeda. Anak prasekolah berbagi dengan alasan yang lebih pribadi, seperti Nino tadi, ia berbagi coklat dengan temannya supaya tetap diajak bermain. Sementara untuk anak yang lebih besar, praktek berbaginya sudah dilandasi oleh konsep keadilan yang berbeda pula.

5-6 tahun – Adil berarti setiap orang mendapat bagian yang jumlahnya sama besar.

6-7 tahun – Bagian yang lebih besar diberikan kepada orang yang berusaha atau bekerja lebih keras.

8-9 tahun – Ada kondisi-kondisi kurang beruntung yang dialami seseorang yang membuat orang tersebut mendapatkan jumlah atau bagian yang lebih besar.

Implikasinya, semakin bertambah usia anak, semakin ia bersedia berbagi meskipun tidak mendapatkan imbalan secara langsung. Pemahaman tentang konsep adil ini tidak terlepas dari kemampuan anak untuk memahami sudut pandang orang lain, dan pada akhirnya mengajarkan anak untuk berempati. Demikianlah perilaku prososial anak terbentuk.

Nah, apakah anak serta merta akan mengembangkan perilaku berbagi ini pada saat sudah menginjak usia tertentu? Sangat tergantung pada stimulasi dan peran serta orang tua serta lingkungan. Mari kita lihat beberapa cara sederhana yang bisa kita lakukan :

1. Tunjukkan kedermawanan dengan memberi contoh
Anak-anak adalah pembelajar terbaik. Berikan contoh sehari-hari bahwa kita bersedia berbagi dan anak akan meniru perilaku kita.

2. Ajak anak untuk berpikir dari sudut pandang orang lain
Banyak situasi yang bisa kita manfaatkan, misalnya saat berbelanja bersama anak. Setelah ia   memilih makanan kesukaannya, coba tanyakan menurutnya Ayah mau beli makanan apa, atau kita belikan makanan apa ya untuk adik di rumah, dan sebagainya.

3. Jelaskan pada mereka bahwa berbagi dapat bersifat sementara
Berbagi benda-benda tertentu tidak harus membuat anak merasa kehilangan. Misalnya ia bisa meminjamkan mainan dan tetap dapat memainkannya nanti. Selain itu anak juga dapat melihat bahwa ketika ia berbagi, orang lainpun bersedia membagi kepunyaan mereka sehingga dapat digunakan atau dinikmati bersama-sama.

4. Orang dewasa merasakan kebahagiaan dengan memberi, apakah anak-anak juga dapat merasakannya?
Mereka belajar mengobservasi ekspresi emosi yang ditampilkan orang tua saat memberi bagi orang lain. Apabila orang tua menunjukkan kegembiraan dan kepuasan saat berbagi, maka anak akan memahami perilaku tersebut sebagai perilaku yang mendatangkan kebahagiaan. Ajak anak terlibat dalam kegiatan sosial secara rutin, misalnya setiap 6 bulan sekali ajak anak merapikan koleksi mainan, buku, atau pakaiannya dan berikan sebagian yang sudah tidak terpakai untuk yang membutuhkan. Dapat pula kita sampaikan bahwa orang lain akan merasa senang kalau kita mau berbagi, seperti yang kita rasakan saat diberi sesuatu oleh orang lain.

Itulah beberapa hal sederhana yang bisa kita coba di rumah untuk menumbuhkan kesenangan berbagi pada anak-anak kita, semoga bermanfaat.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

+ 82 = 86