Beberapa waktu lalu, dengan mudah kita akan menemukan berita tentang seorang anak SD yang salah menyebut nama ikan saat ditanya oleh Presiden Jokowi. Video ini menyebar karena dianggap lucu dan baru berhenti karena ada himbauan untuk menghentikannya. Alasannya anak tersebut dikabarkan memiliki kondisi disleksia.

Viralnya berita ini membuat saya kangen menonton sebuah film India tentang anak bernama Ishaan. Dengan judul Taare Zameen Par (Like Stars On Earth), film ini menggambarkan problema yang dihadapi oleh seorang anak dengan kondisi disleksia.

“They are dancing.. the letters are dancing.”

Demikian jawaban Ishaan saat diminta membaca sebuah kalimat dalam buku. Bagi teman-temannya, ucapan ini mengundang gelak tawa, namun sang guru marah luar biasa karena merasa Ishaan sedang berolok-olok.

Kondisi ini terulang di rumah saat ibunya mengajari Ishaan menulis. Hasil tulisannya acak-acakan dengan huruf yang bentuk dan letaknya terbalik-balik. Sang Ibu marah karena merasa Ishaan sudah diajari berulang-ulang dan tak pernah ingat. Sama seperti gurunya, ia menganggap Ishaan yang malas belajar.

Gambar ini menunjukkan bagaimana seseorang dengan kondisi disleksia melihat huruf-huruf yang harus dibacanya, dalam istilah Ishaan huruf-huruf itu menari! Saya membayangkan sulitnya membaca huruf-huruf yang letaknya tak beraturan itu, apalagi dalam kondisi tertekan dan ditertawakan oleh orang lain.

Kesulitan membaca yang dialami anak disleksia pada umumnya akan mempengaruhi kemampuan menulis, mengeja, dan berhitungnya. Pada gambar di atas, kita lihat meskipun telah diberi contoh tulisan yang benar, anak masih melakukan kesalahan menirunya. Wajar jika ini dilakukan oleh anak-anak berusia 4, 5, atau 6 tahun, namun bagaimana bila usianya sudah 9 tahun bahkan lebih?

Disleksia sebetulnya adalah salah satu bentuk dari gangguan membaca. Disamping disleksia, gangguan membaca meliputi pula reading comprehension disability (kesulitan memahami bacaan) dan reading fluency disability atau kesulitan membaca lancar. Disleksia paling banyak dibicarakan karena sekitar 80% kasus kesulitan belajar disebabkan oleh disleksia. *

Dikenal pula sebagai WLRD atau word-level reading disability, anak dengan disleksia sulit membaca kata karena keterbatasan dalam mengenali huruf dan bunyinya. Contoh, saat melihat kata “ibu” bisa saja dibaca “ubi”, “bui” atau bahkan “bubu”. Artinya komponen hurufnya betul, tapi letaknya yang salah. Atau karena m dibaca “em” dan b dibaca “be”, maka kata “ember” ia tulis menjadi “mbr”. Umumnya anak disleksia juga sulit memahami kalimat yang dibacanya. Penyebabnya karena proses mengenali katanya sudah mengambil banyak energi (kapasitas berpikir) sehingga tidak ada cukup kapasitas lagi untuk merangkai kata demi kata tersebut menjadi sebuah kalimat yang bermakna. *

Tak dapat dihindari, kemampuan membaca memang mendasari keberhasilan anak dalam belajar di sekolah. Seluruh mata pelajaran ada bukunya, ujian dan tes-pun kebanyakan bentuknya tertulis. Anak dengan disleksia akan sangat terhambat jika orang-orang di sekitarnya tak ada yang menyadari kondisinya. Seperti Ishaan, umumnya mereka dicap pemalas, tidak fokus, kurang pintar, anak nakal dan sebagainya. Lebih parahnya lagi, banyak yang dianggap tidak bisa jadi apa-apa dan tak punya masa depan.

Richard Branson, pengusaha besar pendiri Virgin Group pernah menyatakan dalam suatu wawancara bahwa ia baru menceritakan kondisi disleksianya saat berusia 20 tahun. Sutradara Jurrasic Park, Steven Spielberg, baru didiagnosa disleksia tahun 2010 dan ia mengatakan masa SMP mungkin adalah masa terberat baginya karena tekanan teman sebaya sangat terasa saat itu. Kedua sosok ini berpendapat bahwa disleksia seharusnya tidak disembunyikan. Seorang anak seharusnya tau dan paham tentang kondisinya, sehingga orang-orang juga dapat memberikan support yang dibutuhkan. Spielberg sendiri bercerita bahwa kedua orang tuanya berperan penting dalam mengatasi kesulitannya saat itu.

Dalam sebuah scene di Taree Zameen Par, disebutkan nama-nama besar seperti Albert Einstein, Leonardo Da Vinci, dan Thomas Edison sebagai contoh orang-orang yang memiliki kondisi disleksia. Anak zaman sekarang mungkin lebih kenal dengan Orlando Bloom, Jamie Oliver, dan Keira Knightley. Menjadi disleksia tidak membuat mereka gagal dalam hidupnya, justru populer dan menghasilkan karya yang diapresiasi banyak orang.

Hal ini bukan kebetulan. Nyatanya ada beberapa kemampuan dasar yang memang dimiliki oleh orang-orang dengan disleksia**, yaitu :

  • Sangat sadar terhadap lingkungan sekitar.
  • Memiliki rasa ingin tahu yang lebih besar dari orang kebanyakan.
  • Lebih suka berpikir dengan gambaran daripada kata-kata.
  • Sangat intuitif dan peka.
  • Menggunakan seluruh inderanya untuk berpikir.
  • Apa yang dipikirkan sangat dirasakan seakan-akan itu nyata.
  • Memiliki imajinasi yang sangat luas dan tidak terbatas.

Maka tak heran jika mereka memiliki tingkat kecerdasan di atas rata-rata dan tingkat kreatifitas dan kemampuan yang sangat baik dalam bidang seni.

Kebanyakan anak dengan kondisi disleksia dapat membaca jika mendapatkan dukungan dari orang-orang di sekitarnya. Awali dengan memahami kondisi anak sehingga kita tidak lagi memberikan label negatif. Bekerjasamalah dengan guru di sekolah untuk menyamakan cara mengajar kita saat di rumah, lebih sabar, secara bertahap dan tidak memaksa anak. Apresiasi dalam bentuk pujian atau kata-kata penyemangat juga bermanfaat untuk membuat anak percaya diri dan termotivasi untuk belajar. Berikan pula anak kesempatan untuk mengembangkan minat dan bakatnya di bidang lain agar ia mengenali kelebihan yang ia miliki. Terakhir, kita dapat pula meminta bantuan tenaga ahli seperti psikolog dan pedagog untuk penanganan yang lebih tepat.

Mari kembali pada Ishaan. Pada akhirnya seorang guru mengetahui bahwa Ishaan mengalami disleksia. Ia membantunya belajar membaca dan menulis, dan ia pula yang menuntun Ishaan menemukan bakatnya. Di akhir cerita Ishaan kembali percaya diri karena … ah bagaimana kalau Anda tonton saja filmnya? Selain pesan yang kuat, film ini juga dihiasi dengan akting menawan para pemerannya.

Untuk yang hobi menonton, coba cari film “The Big Picture: Rethinking Dyslexia”, “Dislecksia: The Movie”, “Being You”, dan sejumlah film lain yang dapat menambah pemahaman kita tentang disleksia.

Banyak pula video yang menarik untuk kita simak, salah satunya saat Piper Ottorbein berbicara tentang caranya mengatasi disleksia dan menemukan passion dalam hidupnya. Piper bukan artis terkenal, namun apa yang disampaikannya dapat menginspirasi kita.

 

Kembali lagi ke berita tentang anak yang salah menyebut nama ikan tadi, terlepas dari benar atau tidaknya ia mengalami kesulitan membaca, disleksia adalah kondisi yang memerlukan perhatian khusus. Bukan untuk ditutup-tutupi karena malu, bukan pula untuk disebarluaskan karena lucu, namun untuk diatasi. Disleksia dapat dibantu dengan pengertian, kesabaran, dan kasih sayang. Ajak anak menemukan kelebihannya agar ia dapat bersinar bagaikan bintang-bintang di bumi.

Referensi:
Child Psychopathology 2nd ed by Eric J. Mash & Russel A. Barkley, 2003
** www.dyslexia.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

− 7 = 1