Finding Nemo (2013) adalah salah satu film animasi tersukses yang berhasil memikat hati jutaan anak dan orang tua. Kisah seekor ayah ikan bernama Marlin yang mengarungi separuh dunia untuk menemukan anaknya ini hingga sekarang masih dapat ditonton melalui televisi maupun streaming di internet.

Film ini berfokus pada hubungan antara ayah dan anak, dimana seorang ayah rela melakukan apapun untuk keselamatan anaknya. Jika berbicara mengenai parenting, Nemo tumbuh tanpa kehadiran sosok Ibu. Marlin sebagai orang tua tunggal menerapkan proteksi yang cukup ketat terhadap Nemo, wajar kalau mengingat Nemo berasal dari satu-satunya telur yang berhasil menetas.

Lain lagi dengan The Pursuit of Happyness (2006). Film keluarga yang membuat kita sulit menahan air mata ini berkisah tentang perjuangan seorang ayah menafkahi keluarga, terutama anaknya. Tokoh Chris Gardner digambarkan sebagai sosok yang gigih dan pantang menyerah. Sang anak Christopher tidak hidup dalam kondisi ideal karena orang tuanya berpisah, iapun sering merasakan betapa sulitnya kehidupan yang mereka hadapi. Namun keduanya saling menguatkan dengan caranya masing-masing.

Sejak dulu Ayah diposisikan sebagai tulang punggung keluarga. Maka pada sebagian besar keluarga, Ayah lebih banyak menghabiskan waktu di tempat kerja dibandingkan mengasuh anak. Lalu muncul anggapan bahwa hubungan ayah dengan anak tak sedekat hubungan ibu dengan anak. Benarkah seperti itu?

Well, kalau berkaca pada kedua film di atas, tokoh ayah dan anaknya digambarkan sangat dekat karena memang tidak ada sosok ibu. Otomatis, seluruh urusan pengasuhan dikendalikan oleh Ayah dan frekuensi interaksi mereka sangat tinggi.

Namun Sahabat CC, kelekatan atau attachment ternyata bukan ditentukan oleh frekuensi pertemuan namun oleh kualitas pertemuan. Ayah yang bekerja 9 to 5 lalu bertemu anak hanya 4-5 jam per hari juga bisa dekat dengan anak, tergantung akan digunakan untuk apa waktunya saat bersama anak. Bermain, nonton bersama, mendampingi anak belajar, ngobrol, melakukan hobi yang sama, mendongeng atau membacakan buku cerita sebelum anak tidur, beribadah bersama, dan masih banyak lagi. Inilah yang menentukan apakah anak akan menumbuhkan kepercayaan dan kedekatan dengan ayah.

Ayah saya sebagai contoh, adalah seorang karyawan BUMN selama lebih dari 20 tahun. Namun saat di rumah, beliau kerap mendampingi saya belajar dan mengisi waktu bersama dengan nonton atau ngobrol. Tak jarang sepulang sekolah, saya dan adik-adik diajak ke kantornya agar bisa pulang bersama Ayah sore harinya. Saat masih di Denpasar, di akhir pekan Ayah selalu mengajak kami sekeluarga berjalan-jalan ke tempat wisata bersama teman-teman dekatnya. Bisa dikatakan, hubungan saya dengan Ayah sama dekatnya dengan hubungan saya dengan Ibu.

Ayah Jadul vs Ayah Zaman Now

Perubahan zaman mengubah banyak hal, tidak hanya teknologi tapi juga hubungan ayah dengan anak. Generasi ayah yang lahir di tahun 50-70an memposisikan diri sebagai sosok pemimpin dalam keluarga. Ia yang bertugas mengarahkan dan menegakkan aturan bagi anak-anak. Maka ada kesan kaku dalam hubungan ayah dan anak, sementara hubungan yang hangat dan penuh kasih bisa didapatkan anak dari ibu. Coba kita ingat-ingat, seberapa sering Ayah kita mengungkapkan rasa cintanya kepada anak-anaknya? Kebanyakan akan menjawab jarang atau bahkan tidak pernah.

Sementara ayah generasi 80-90an berusaha mengikis jarak antara ayah dan anak tersebut dengan bersedia memposisikan diri sebagai teman anak. Mereka mendengarkan pendapat anak, memenuhi kebutuhan anak bermain, mau ngobrol dan bercengkerama dengan anak, serta tak segan melakukan tugas-tugas rumah tangga seperti mengganti popok atau memandikan anak. Mungkin ada faktor lain juga di situ, diantaranya sekarang banyak pula ibu yang bekerja. Lalu banyak ayah yang telah menyadari peran pentingnya dalam parenting. Serta mungkin karena dulunya merasa dibesarkan dengan kaku atau berjarak, kini mereka ingin lebih dekat dengan anak-anaknya.

Namun demikian, tetap ada hal yang tidak berubah. Selain sebagai pencari nafkah, sosok ayah juga seringkali menjadi contoh bagi anak-anaknya. Misalnya, ayah merasa harus menjadi pribadi yang baik agar kelak anak-anaknya dapat meneladani. Atau ayah dituntut untuk memiliki karakter yang unggul agar anaknya kelak tak kalah sukses dari dirinya. Masyarakat kita memang meletakkan beban yang cukup berat di pundak seorang ayah. Karena itu, tak berlebihan kiranya kalau banyak dari kita melihat sosok ayah sebagai pahlawan.

Sumber: Photo by Agung Pandit Wiguna from Pexels

Saat tulisan ini dibuat, ada 2 peringatan yang berdekatan yaitu Hari Pahlawan dan Hari Ayah Nasional. Siapapun bisa jadi pahlawan, tak hanya mereka yang gugur terhormat di medan perang. Seorang ayah dapat menjadi inspirasi dan teladan, menjadi role model bagi anak-anaknya. Ia juga memberikan dukungan baik secara materiil maupun moril agar anaknya dapat tumbuh dan berkembang dengan optimal. Tidak selalu banyak bicara, namun kepeduliannya ditunjukkan melalui perbuatan.

Jika Anda seorang ayah, mungkin Anda tak sepintar Iron Man, tak sekuat Superman, atau tak sekaya Batman. Bisa jadi cerita Anda tak sedramatis Marlin atau Chris Gardner. Tapi bagi anak yang Anda besarkan, yang Anda cintai sepenuh hati sejak tangis pertamanya terdengar, juga yang Anda doakan di setiap tarikan nafasnya, pahlawan itu bernama Ayah.

Selamat Hari Pahlawan dan Selamat Hari Ayah Nasional!

Cover Image by Mauricio A. from Pixabay

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

60 + = 70