Apa yang terlintas dalam benak Anda saat mendengar kata “unggul”?

Unggul sering dihubungkan dengan juara, memiliki kelebihan dibandingkan anak lain, nomer satu, dan terbaik. Unggul sering disamakan dengan berprestasi, berhasil merebut kemenangan, juga mengalahkan orang lain. Artinya untuk menyatakan seorang anak memiliki keunggulan, ada proses kompetisi dan ada proses perbandingan dengan anak lain. Anda setuju?

Pemerintah menyertakan “unggul” sebagai salah satu tema Hari Anak Nasional 2018. Bagaimana anak-anak Indonesia mampu menjadi yang terbaik, berdaya saing tinggi sehingga mampu menghadapi persaingan global. Kembali, ada kata persaingan yang dekat dengan kata kompetisi.

Beberapa tahun belakangan ini, muncul semacam “perlawanan” terhadap kompetisi. Alfie Kohn, penulis No Contest:The Case Against Competition, menyatakan bahwa kompetisi membuat anak-anak iri pada sang pemenang dan mencemooh yang kalah, sementara kolaborasi membantu anak untuk berinteraksi dan berkomunikasi, mempercayai satu sama lain, dan menerima perbedaan. Saat ini banyak sekolah yang berusaha menghindari kompetisi, misalnya dengan menghapus sistem ranking dan memberikan hasil belajar dalam bentuk deskriptif, bukan lagi angka.

Di lain pihak, John Tauer dari Universitas St Thomas berpendapat bahwa kompetisi bisa sehat di saat orang tua tidak hanya berfokus kepada kemenangan, jika anak-anak diberi masukan mengenai performa mereka, juga saat anak-anak dapat lebih mengenal dirinya ketika berada di bawah situasi menantang.

Yang jelas, kompetisi memang riil dan anak-anak kita menghadapinya dalam kehidupan nyata. Jika dilakukan dengan sehat, kompetisi bisa memberikan banyak manfaat.

Pendidikan di sekolah memang menjadi satu faktor penting dalam mengembangkan generasi yang unggul, namun bukan satu-satunya.

Sangat sempit jika kita membatasi keunggulan seorang anak hanya dari sisi kemampuan akademis. Ranah perkembangan anak sangat luas, terdiri dari kognitif, motorik, emosi, hingga sosial. Kalya selalu juara dalam matematika, sementara Andrew jago basket. Bintang merebut banyak piala dalam lomba menggambar, sedangkan Putri dikenal karena kefasihannya berbahasa Inggris. Ya, ungkapan bahwa setiap anak unik memang benar, termasuk unik dalam bidang yang ia kuasai.

Tahun 1983, Dr. Howard Gardner memperkenalkan teori tentang multiple intelligence (MI). Ia berpendapat bahwa kecerdasan manusia bukan berupa satu kemampuan umum belaka, melainkan ada 8 (delapan) jenis kapasitas kecerdasan seperti di bawah ini:

  1. Linguistic intelligence (“word smart”)
  2. Logical-mathematical intelligence (“number/reasoning smart”)
  3. Spatial intelligence (“picture smart”)
  4. Bodily-Kinesthetic intelligence (“body smart”)
  5. Musical intelligence (“music smart”)
  6. Interpersonal intelligence (“people smart”)
  7. Intrapersonal intelligence (“self smart”)
  8. Naturalist intelligence (“nature smart”)

itu baru pendapat seorang pakar. Masih banyak teori lain tentang kecerdasan, misalnya kecerdasan emosional, kecerdasan eksistensial, hingga kecerdasan spiritual.

Meskipun semuanya dapat kita stimulasi, namun pasti ada satu atau dua kemampuan yang menonjol pada setiap anak. Nah, ini kuncinya.. menemukan potensi anak seakurat mungkin. Menurut pendapat Anda, lebih baik mengembangkan kedelapan jenis kecerdasan itu atau berfokus pada beberapa kecerdasan yang menonjol?

Sudah jelas bahwa menstimulasi kecerdasan anak menjadi tugas kita semua, tak hanya guru. Jika di sekolah sudah ada kurikulum, bagaimana dengan di rumah? Berikut ini beberapa langkah yang dapat kita coba:

  • Temukan minat, bakat, dan potensi anak. Caranya dengan mengamati dan mendengarkan apa yang disukai anak-anak kita. Dapat pula kita datang ke psikolog anak, lembaga pendidikan, atau ahli tumbuh kembang untuk mendapatkan tes minat dan bakat.
  • Banyak dari kita yang berharap anak kita unggul di bidang A, namun ternyata minatnya pada bidang B. Atau jika kedua orang tuanya dokter, anaknya juga harus jadi dokter, tak boleh jadi seniman. Disinilah diperlukan kebesaran hati orang tua untuk menerima kemampuan dan potensi anaknya.
  • Bersikaplah fleksibel. Kemampuan dan minat anak senantiasa dapat berubah, tergantung usia, pengalaman, dan stimulasi yang ia dapatkan. Jadi jika Anda menemukan bahwa minatnya berubah, beri dukungan yang ia butuhkan.
  • Sediakan fasilitas sesuai kemampuan.Misalnya jika anak kita senang berolahraga, berikan ia perlengkapannya, atau masukkan ia ke klub olahraga. Jika ini sudah Anda lakukan, penting pula untuk selalu memotivasi anak agar ia tak mudah bosan dan tiba-tiba berpindah haluan.
  • Perkenalkan ia dengan kompetisi. Mulai saja dari lingkup kecil, misalnya ikut maju memperebutkan hadiah saat ada acara ulang tahun temannya. Berikutnya bisa ikut lomba 17-an, berikutnya lagi ikutkan ke kompetisi yang bisa merangsang potensi kecerdasannya, misalnya anak yang memiliki musical intelligence diikutkan lomba menyanyi atau bermain musik, dan seterusnya.
  • Anak unggul tidak diciptakan dalam semalam. Latihan terus-menerus secara konsistenlah yang akan membentuk keahliannya di bidang tertentu
  • Percayailah proses, bukan hanya berfokus pada hasil. Jika anak melihat bahwa kita bangga pada usahanya, ia akan termotivasi untuk mencapai hasil yang lebih baik.

Nah Sahabat CC, sudah dapat membayangkan anak-anak Anda akan unggul dalam hal apa? Semoga artikel ini bermanfaat.

Mari jadikan anak-anak Indonesia anak yang unggul!

 

 

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

2 + 3 =