Di kedai kopi yang sering saya datangi, seorang anak laki-laki kecil kerap meminta saya membeli bunga yang ia jual. Tebakan saya usianya tak lebih dari 6 tahun, ia bertubuh kurus namun penampilannya terbilang bersih dan tak lusuh. Tidak sekolah, itu jawabannya saat saya tanya ia kelas berapa. Lain lagi di warung sate dekat rumah. Anak perempuan jelang remaja berkerudung menghampiri dengan amplop kosong yang disodorkan pada saya. Tulisannya ‘tolong bantu untuk biaya sekolah’.

Anak-anak yang “bekerja” tentu mudah kita temui setiap hari. Yang berusia 5 tahun hingga remaja, bahkan yang berusia di bawah itu berdendang atau menengadahkan tangan di lampu merah. Yang sedang hangat sekarang adalah bayi-bayi yang kerap menjadi “properti” untuk pengemis dewasa. Menurut Menteri Sosial kita, ada lebih dari 30 ribu anak jalanan di Indonesia di tahun 2015. Mereka tidak hanya kehilangan kesempatan untuk mengenyam pendidikan, namun hak-hak lainnya juga tidak terpenuhi.

Sebelum abad ke 17, anak-anak dipandang sebagai miniatur orang dewasa. Seluruh aspek perkembangannya sama dengan orang dewasa, hanya ukuran tubuhnya saja yang lebih kecil. Mereka dipekerjakan sejak dini, di masa itu sebagai tukang kayu, pandai besi, atau petani, sama seperti orang tua dan kakek nenek mereka. Orang dewasa sadar bahwa tenaga dan kemampuan anak-anak tidak sama, mereka juga masih butuh perlindungan dan diajari berbagai keterampilan, namun tak ada yang memikirkan tentang hak-hak anak seperti pendidikan, perkembangan psikologis, dan lainnya. Baru pada saat berbagai profesi lain berkembang, orang dewasa mulai sadar bahwa bila mereka ingin meningkatkan kesejahteraan dan kesempatan bekerja dalam keluarga mereka, anak-anak harus dibekali dengan pendidikan.

Ironis memang, di abad ke 21 ini masih ada anak-anak yang bekerja sejak kecil dan tidak punya kesempatan belajar. Belum lagi kalau kita bicara tentang hak anak yang disarikan dari Konvensi Hak-Hak Anak PBB tahun 1989, diantaranya:

1. Hak untuk BERMAIN
2. Hak untuk mendapatkan PENDIDIKAN
3. Hak untuk mendapatkan PERLINDUNGAN
4. Hak untuk mendapatkan NAMA (identitas)
5. Hak untuk mendapatkan status KEBANGSAAN
6. Hak untuk mendapatkan MAKANAN
7. Hak untuk mendapatkan akses KESEHATAN
8. Hak untuk mendapatkan REKREASI
9. Hak untuk mendapatkan KESAMAAN
10. Hak untuk memiliki PERAN dalam PEMBANGUNAN

Jelas bahwa bagi anak jalanan, sebagian besar haknya tidak terpenuhi. Lalu apa akibatnya dikaji dari sudut psikologi perkembangan?

Baik hidup di jalan maupun di bawah atap rumah, anak-anak yang tidak terpenuhi kebutuhannya secara fisik maupun psikologis dapat dikategorikan sebagai anak terlantar. Dalam bukunya, Papalia menyebut penelantaran sebagai kegagalan untuk memenuhi kebutuhan dasar anak, seperti makanan, pakaian, perawatan medis, perlindungan, dan pengawasan. Faktor ekonomi sering kali menjadi penyebab anak-anak ini tidak mendapat perhatian yang seharusnya, disusul oleh kondisi keluarga yang tidak harmonis, serta kurangnya pendidikan dan kepedulian orang tua. Penelantaran berkaitan dengan penganiayaan dan kekerasan pada anak, eksploitasi dan rendahnya tingkat pendidikan, hingga kenakalan serta kriminalitas pada anak. Apabila sejak kecil anak mengalami masalah-masalah serius tersebut dan tidak ditangani, maka persoalan psikologis mencakup kognitif, emosi, hingga sosial dapat terus terbawa hingga ia dewasa. Terutama bagi anak jalanan, resiko ini menjadi berkali-kali lipat.

Bila bicara tentang anak jalanan, banyak jari yang akan menunjuk kepada pemerintah. Persoalan ini memang kompleks karena tak hanya berkaitan dengan tidak terpenuhinya hak anak, namun juga persoalan perut lapar, bagaimana kebijakan dan peraturan yang ditetapkan, tingkat pendidikan, hingga terlibatnya orang-orang yang mengeksploitasi mereka untuk mendapat keuntungan. Lalu untuk kita yang tak punya hubungan langsung dengan anak-anak ini, adakah yang dapat kita lakukan?

Kita dapat menemukan beberapa nama komunitas yang menampung dan memberdayakan anak jalanan. Adapula gerakan-gerakan sosial kemasyarakatan yang aktif menyumbangkan gagasan untuk mengurangi keberadaan mereka. Bergabung dengan salah satu komunitas ini bukanlah ide yang buruk. Kita dapat memilih yang memiliki visi dan misi sama dengan kita, dan berperanlah sesuai kemampuan dan keahlian kita. Misalnya, ada komunitas yang rutin memberikan pengajaran dan keterampilan. Kalau kita bisa memasak, ajarkan membuat makanan sederhana untuk dijual, atau kalau kita pandai IT, mengapa tidak berbagi? Hafal beberapa lagu anak-anak? Ajari mereka bernyanyi dan menari, siapa tau salah satu dari anak-anak itu adalah calon seniman masa depan. Atau kalau kita peduli pada nilai-nilai moral dan sosial, mendongeng bisa jadi salah satu cara menanamkannya kepada mereka. Kemampuan membaca, menulis, dan berhitung adalah kemampuan dasar yang bisa diajarkan oleh siapa saja.

Kepedulian dan kasih sayang tidak selalu berbentuk memberi. Perlu diingat bahwa semakin lama anak-anak itu berada di jalanan, semakin besar resiko mereka untuk tidak tumbuh secara optimal. Pemerintah daerah dan dinas sosial memiliki kebijakan dan program-program yang bertujuan membantu anak-anak itu untuk tidak terus menerus berada di jalan. Keraguan dan skeptisisme mungkin ada, namun lebih baik memberikan uang receh yang habis untuk makan satu kali (dan membuat mereka betah di jalan), atau memastikan pihak berwenang mengetahui keberadaan mereka sehingga penanganannya bisa berjangka panjang?

Banyak anak yang terpaksa berada di jalan karena memang keluarganya tak sanggup lagi membiayai sekolahnya. Program-program penyaluran sumbangan yang bersifat resmi maupun swadaya masyarakat dapat membantu dana kita dimanfaatkan untuk hal yang lebih tepat sasaran. Kepercayaan adalah faktor utama dalam memilih program. Bagus jika pengelola program tersebut berlokasi tak jauh dari tempat tinggal kita dan bisa sesekali kita datangi, namun bila kita memilih pengelola yang jauh, ada baiknya mereka memiliki sistem pengecekan dan pelaporan yang memudahkan kita untuk mendapat informasi. Sumbangan tentu tak hanya berbentuk dana, kalau kita punya koleksi buku yang sekiranya bisa dibagi, tentu akan membantu. Pakaian atau mainan edukatif yang tak lagi terpakai juga dapat kita salurkan melalui pengelola yang kita percayai.

Mungkin banyak dari kita yang belum dapat melakukan hal-hal di atas. Mengubah mindset bahwa anak-anak ini adalah beban masyarakat mungkin hal sederhana yang dapat kita lakukan. Wajah bersahabat atau senyum yang kita tunjukkan mungkin tak membuat dunia mereka berubah dalam sekejap, namun paling tidak mereka tidak melabeli dirinya sebagai kelompok yang gagal dan tak diinginkan, yang ujung-ujungnya tak ingin berubah ke arah yang lebih baik.

“Belajar bisa dimana saja karena sekolah sesungguhnya adalah kehidupan dan semua orang adalah guru.”

Ungkapan tersebut mungkin benar, namun faktanya hanya sebagian kecil anak jalanan yang mampu membuktikan keberhasilannya. Bagaimanapun, jalanan bukanlah tempat yang ideal untuk anak-anak tumbuh. Anak-anak ini, meskipun bukan anak kita sendiri, juga punya hak untuk terpenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya. Anak-anak ini, meskipun bukan anak kita sendiri, juga akan menentukan nasib bangsa kita ke depannya.

Anak jalanan, anak kita.

Referensi:
Papalia, Olds, Feldman, Human Development, McGraw Hill, 2008
William Crain, Theories of Development, Prentice Hall, 2000

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

+ 7 = 15