Saat ini berkegiatan menggunakan media elektronik menjadi tak terhindarkan. Mengetik di laptop, mengirim email, menjawab pesan di grup sosial media, membaca berita di portal berita bahkan mencari resep di mesin pencari. Berkegiatan dengan gadget memang membantu banyak aspek dalam kehidupan orang dewasa, namun bagaimana jika kegiatan serupa dilakukan oleh anak?

Mari kita simak data hasil penelitian Kaiser Family Foundation pada 2010: Rata-rata anak usia 8 – 10 tahun menghabiskan hampir 8 jam menggunakan beragam media seperti tv, telepon pintar, tablet dan komputer. Sedangkan remaja menghabiskan lebih dari 11 jam per hari. Jika dibandingkan, selain tidur, hasil penelitian ini menyatakan aktivitas didepan layar merupakan aktivitas utama. Fakta yang mengikuti data ini adalah hanya sedikit dari orang tua memiliki peraturan mengenai pemakaian media elektronik ini.

Melalui gadget, terbuka dunia baru dimana tidak saja anak, tetapi juga orang dewasa terpapar informasi dan keterhubungan yang cepat dan seperti tidak berbatas. Dengan kemampuan pengendalian diri, antisipasinya yang masih berkembang dan karakteristiknya yang mudah terpengaruh pertemanan, dunia maya tampak menyimpan ancaman yang menunggu anak dalam keriuhannya. Di sisi lain, dunia maya dengan media sosial dan ketersediaan informasinya juga punya dampak positif, diantaranya mengembangkan kemampuan komunikasi, jaringan sosial bahkan keterampilan tertentu pada anak (Ito M, Horst H, Bittani M, 2008).

Menurut American Academic of Pediatric (AAP), media elektronik dengan dunia mayanya, merupakan bagian dari lingkungan anak, seperti halnya sekolah, rumah dan pertemanan. Sehingga seperti lingkungan lainnya,  karakteristik anak dengan kelebihan dan kekurangannya begitupula karakteristik lingkungan dengan positif negatifnya berinteraksi disini. Hal ini menyebabkan pola pengasuhan orang tua dalam lingkungan media sosial tidak berubah. Orang tua tetap perlu terlibat didalamnya, membuat peraturan mengenai penggunaannya, dan mengajarkan nilai dan etika di dalamnya.

Cara Orang Tua Menyikapi Penggunaan Gadget Pada Anak

Mengutip yang disampaikan Debra W. Haffner, ketika orang tua mendapatkan fakta mengenai gadget, dunia maya dan media social, daripada harus panik, yang perlu dilakukan adalah (1) mengevaluasi bagaimana hal tersebut dapat mempengaruhi keluarga dan (2) menyusun strategi melalui pengasuhan mengenai penggunaan gadget termasuk aksesnya di dunia maya. Catherine Steiner-Adair, seorang psikolog Harvard juga menyatakan bahwa, “Orang tua, memberikan gadget kepada anak, hampir sepanjang hari untuk membuat mereka tenang daripada mengajari anak-anak untuk memiliki kemampuan mengendalikan diri, menenangkan diri.” Prinsip-prinsip perkembangan seperti anak belajar melalui teladan atau contoh dan interaksi dua arah merupakan cara belajar utama bagi anak perlu tetap menjadi dasar pengasuhan orang tua.

Karena itu paling tidak ada beberapa hal yang perlu menjadi bagian dari pengasuhan orang tua menghadapi gadget dan akses dunia maya pada anak, diantaranya adalah :

Berikan contoh perilaku yang sesuai. Batasi juga penggunaan gadget dan media sosial pada orang tua sehingga anak mendapatkan pesan yang konsisten mengenai hal tersebut

Anak belajar terbaik melalui interaksi dua arah. Penelitian menunjukkan bahwa anak usia dini efektif belajar melalui pengasuh. Saat ini adalah saat kritis untuk penguasaan bahasa, kemampuan menenangkan diri dan aspek-aspek lainnya. Sehingga anak usia dibawah dua tahun disarankan untuk seminimal mungkin berinteraksi dengan gadget atau tidak sama sekali.

Tentukan batasan pemakaian.

  • Anak di atas usia 2 tahun maksimal berinteraksi dengan media elektronik selama 1-2 jam dan usia SD sebanyak 2 – 3 jam sehari.
  • Letakkan komputer di tempat yang mudah diawasi.
  • Bangun aktivitas keluarga yang bebas gadget seperti makan malam bersama atau olah raga yang membantu anak membangun kebiasaan sehat.

Kegiatan bermain yang bebas gadget merupakan hal yang penting. Hal ini tidak hanya mengembangkan kreativitas dibandingkan struktur seperti yang ditawarkan permainan di gadget tetapi juga mengembangkan banyak keterampilan sosial seperti bermain bergiliran, tidak curang dalam bermain dan bekerja sama.

Dampingi anak saat menggunakannya.

  • Nonton bersama.
  • Miliki akun seperti facebook, twitter, instagram dan jadilah teman anak anda

Pahami perangkat medianya dan teknologinya. Hal ini membantu orang tua membuat batasan akses dan memantau aktivitas anak.

Sepakati aturan dalam penggunaan jejaring sosial, misalnya ;

  • Tidak boleh bertemu teman online secara offline
  • Arahkan anak untuk bercerita mengenai permasalahan yang dihadapinya di jejaring sosial
  • Kunjungi akun anak anda paling tidak seminggu sekali
  • Pastikan tidak ada informasi yang terlalu detail mengenai anak dicantumkan di akunnya
  • Perhatikan foto-foto yang diunggahnya, arahkan anak berpikir untuk tidak mengunggah foto-foto yang tidak wajar atau memalukan
  • Pastikan mereka jujur dalam mencantumkan usia di akunnya
  • Arahkan anak untuk memikirkan terlebih dahulu pesan-pesan yang akan dituliskan di internet

Tetapkan konsekuensi ketika aturan dilanggar dan konsisten menjalankannya. Konsekuensi dapat efektif diterapkan ketika hubungan saling mendukung dan saling percaya dibangun antara orang tua dan anak.

Referensi :
Brown, Ari. Shifrin,Donald L.Hill, David L. 2015.Beyond ‘turn it off’: How to advise family on media use. AAP News.Illinois.
http://pediatrics.aappublications.org/content/132/5/958.full
Haffner, Debra W, 2008. What every 21st century parent needs to know. Newmarket Press. New York.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

2 + 4 =