Disiplin merupakan perasaan taat dan patuh terhadap nilai-nilai yang dipercaya merupakan tanggung jawabnya. Mengajarkan disiplin pada anak pada dasarnya mengajarkan 3 hal secara bersamaan yaitu taat dan patuh, nilai-nilai, dan tanggung jawab. Bukan hal yang mudah untuk mengajarkan hal tersebut dengan instan. Oleh karenanya membutuhkan proses dan kesabaran orangtua untuk menikmati prosesnya sebagai pihak yang mengajarkan kedisiplinan.

Salah satu pendekatan parenting yang berkembang saat ini adalah positive parenting. Didalamnya ada 3 konsep pengasuhan yaitu suportif, konstruktif dan menyenangkan. Pendekatan ini menekankan pada sikap positif dan bagaimana menerapkan disiplin dengan kasih sayang. Prinsip dasar metode ini adalah bagaimana kita menghargai anak di dalam pengasuhan. Intinya membuat anak tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan bertanggung jawab. *)

Bagaimana Mengajarkan Disiplin dengan Kasih Sayang?

Langkah pertama yang perlu dilakukan oleh orangtua adalah menentukan nilai-nilai pribadi, keluarga, maupun agama yang ingin di’tanamkan’ kepada anak. Mengapa hal ini penting dan utama? Karena dengan menghayati nilai tersebut, akan membantu orangtua dalam mengajarkan, memberi contoh dan menanamkan disiplin. Misalnya, salah satu perilaku disiplin yang ingin dibangun adalah ‘bangun pagi’ karena dari sisi agama dan rutinitas keluarga diyakini sebagai hal positif untuk dibiasakan pada anak. Orangtua pun perlu disiplin untuk kegiatan bangun pagi, sehingga dapat membersamai anak dalam membangun kebiasaan bangun pagi. Hal ini bisa menjadi bagian dari suportif. Melalukan kegiatan rutin pagi yang menyenangkan, dan membicarakan hal-hal yang membuat anak sulit untuk bangun pagi, sebagai bagian dari konstruktif.

Langkah kedua, take action. Mulai. Seringkali kita sebagai orangtua menunda untuk mulai mengajarkan kebiasaan baru pada anak. Bisa karena ragu, khawatir, atau bahkan menunggu momen tertentu untuk memulai. Penting untuk meyakinkan diri kita sebagai orangtua, bahwa mempelajari hal baru membutuhkan proses dan penyesuaian bagi anak. Kita sebagai orangtua perlu bersiap untuk menghadapi berbagai kemungkinan reaksi anak, emosi positif maupun negatif, bahkan kadang rasa bosan yang bisa jadi muncul dan menuntut kreativitas kita sebagai orangtua untuk mempertahankan kedisiplinan secara menyenangkan.

Anak-anak dengan segala keingintahuan dan berbagai karakteristik perkembangannya membuat anak pun membutuhkan waktu untuk menghayati hal baru, kebiasaan baru, maupun keterampilan baru. Sebagaimana kita orang dewasa yang membutuhkan penyesuaian untuk taat dan patuh terhadap aturan tertentu yang ada di lingkungan.
Dengan memulai, orangtua dapat mengetahui reaksi dan berbagai hal yang mungkin menghambat ataupun mendukung kedisiplinan anak.

Langkah Ketiga, yaitu evaluasi. Hal ini selalu menjadi perhatian orangtua dalam proses pengasuhan anak. Perlu lebih memahami anak dengan melihat reaksi, mendengarkan celotehannya, sehingga kita pun dapat lebih peka untuk melihat proses yang terjadi. Mari kita ambil contoh bangun pagi lagi. Jika di saat tertentu anak menjadi sulit untuk bangun pagi, yang perlu dicek adalah jam tidur malam, kondisi kesehatan anak, aktivitas yang dilakukan sehari sebelumnya, makanan yang dikonsumsi, dan hal lain yang bisa jadi mempengaruhi kesiapan badan anak untuk bangun lebih pagi. Berkomunikasilah dengan anak melalui bahasa yang mudah ia pahami, karena terkadang anak pun dapat memberikan ide maupun penjelasan yang solutif dan kadang out of the box.

Apakah terdengar sederhana dan mudah, Sahabat? Sama sekali tak mudah namun sangat layak untuk diterapkan. Saya pribadi pun masih dalam proses mengajarkan anak untuk disiplin bangun pagi. Tak jarang kendala datang dari diri pribadi sebagai orangtua yang kadang ingin leluasa mengerjakan tugas rumah tangga tanpa diganggu. Apalagi bagi ibu yang memiliki waktu kerja di pagi hari seperti saya, terkadang membiarkan jam pagi terlewat. Namun menariknya, kadang muncul komentar dari anak sulung saya ketika ia menyadari bahwa kegiatan jalan pagi yang biasanya dilakukan secara rutin terlewatkan. Saat mendapatkan komentar seperti ini, saya langsung menyambut dengan ajakan untuk memulai kembali rutinitas bangun pagi supaya jalan paginya tak terlewat lagi.

Selain itu, yang selalu penting diingat oleh orangtua adalah, proses disiplin bagi anak tidak bisa tercapai dengan cara dan waktu yang ‘instan’. Tidak ada batasan waktu untuk mengajarkan anak disiplin, yang penting adalah konsistensi dari orangtua untuk sama-sama belajar disiplin dengan anak. Ketika anak sudah mencapai tahapan ‘butuh’ untuk mengikuti kebiasaan atau nilai yang sudah diajarkan tanpa perintah, itu adalah salah satu tanda bahwa kita sudah berhasil mengajarkan disiplin kepada anak. Tetap lanjutkan!

Selamat mencoba, Sahabat CC, dan jangan ragu berkomentar atau membagikan pengalaman Anda dalam mendisiplinkan anak.

*) Referensi: Wikipedia, Psikologi Positif Dalam Perkembangan Manusia (I Gusti Ayu Putu Wulan Budisetiyani, dkk)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

+ 13 = 18