Bukan hal yang aneh jika anak-anak sekolah saat ini hampir selalu membawa PR saat pulang. Setelah durasi belajar di sekolah yang nyaris lebih dari 7 jam, kadang kita tidak tega melihat mereka masih pusing dengan tugas-tugasnya. Apalagi jika kedua orang tua sibuk bekerja dan sama-sama kelelahan ketika sampai di rumah.

Jika sudah begini, bagaimana caranya agar tugas anak tetap terpantau?

Sebetulnya, orang tua atau pengasuh bisa membantu anak, dalam hal ini usia SD, untuk mengerjakan PRnya. Beragam strategi bisa kita coba agar anak tetap menyelesaikan kewajibannya sementara orang tua tidak harus terlibat terlalu banyak dalam tugas mereka.

Menurut Sanders (1992), ada beberapa cara yang bisa dilakukan orang tua untuk mengatasi masalah pekerjaan rumah anak :

1. Sediakan waktu luang untuk anak beristirahat dari harinya yang panjang dengan rutinitas.
Biarkan anak istirahat sejenak setelah pulang sekolah. Biarkan Ia merelaksasikan tubuhnya dengan cara yang efektif. Membiarkan anak bermain sejenak, tidur siang/sore sekitar 1-2 jam, menonton acara televisi kesukaannya (tentu yang bermanfaat), mandi sore, makan/minum yang cukup, bisa cukup membantunya. Pastikan anak sudah dalam keadaan fisik yang optimal sebelum belajar.

2. Ruang belajar perlu menjadi perhatian
Memiliki ruang belajar sendiri tentu adalah hal yang baik bagi anak-anak usia sekolah. Tetapi, anak juga sering mengalami kejenuhan. Apabila mereka meminta untuk belajar di ruang keluarga atau ruang makan, orang tua boleh mengizinkannya sekali waktu. Asalkan, pastikan bahwa ruangan “steril” dari benda-benda yang bisa mengalihkan perhatian, seperti TV yang menyala, mainan, dan sebagainya. Pastikan pula penerangan dan tempat duduknya memadai untuknya menulis atau membaca.

3. Orang tua atau pendamping belajar, juga perlu mempertimbangkan kondisi dirinya saat mengajari anak
Orang tua yang lelah sepulang bekerja atau mengurus rumah tangga, tentu bukanlah kawan yang tepat bagi anak yang ingin mengerjakan PR. Orang tua juga perlu merelaksasikan dirinya sejenak agar lebih siap menghadapi anak. Mandi, makan, merebahkan tubuh sejenak, tampaknya juga perlu dilakukan orang tua apabila ingin mendampingi anak belajar.

4. Bantu dalam memulai
Menanyakan apa saja yang menjadi tugas anak saat ia sudah siap belajar adalah hal yang penting. Tanyakanlah apa yang diminta guru di sekolah terhadap tugasnya dalam keadaan sudah fokus. Biasanya, anak mengalami kesulitan dalam memahami tugasnya. Oleh sebab itu, ia tetap memerlukan pendampingan karena butuh diberi arahan saja.

5. Mengelola diri: tunggu dan tidak menginterupsi
Ada anak-anak yang sudah cukup mampu mengatur dirinya untuk belajar, sehingga orang tua tidak perlu banyak mengingatkan. Tapi, tentu ada masa dimana mereka juga butuh bertanya. Orang tua atau pendamping, hanya perlu menunggu apabila mereka mencari bantuan dan tidak menginterupsi ketika anak berpendapat atau mengkritisi hasil kerja anak yang mungkin masih kurang.

6. Tetapkan durasi waktu maksimal yang akan dihabiskan
Anak perlu belajar mengelola emosi dan mengatur dirinya untuk tetap fokus. 1,5-2 jam kira-kira adalah waktu efektif yang bisa diberikan kepada mereka untuk belajar di rumah. Selebihnya, mereka akan cepat merasa lelah atau bosan. Jadi, orang tua tidak bisa memaksakan anak untuk “begadang” layaknya orang dewasa.

7. Cek dan ricek
Setelah tugas anak selesai dikerjakan, orang tua perlu tetap mengecek kembali hasil kerjanya. Bukan untuk mengoreksi benar atau salah, tetapi lebih kepada untuk melihat kesesuaian dengan apa yang diminta, dan memastikan apakah anak sudah yakin dengan pekerjaannya atau belum. Jika orang tua langsung mengoreksi saat itu juga, anak tidak belajar menerima kesalahan atau bertanggung jawab atas hasil kerjanya secara mandiri di sekolah.

8. Reward
Anak yang berhasil menyelesaikan PR-nya tetap harus mendapatkan penghargaan. Jika pujian dirasa cukup, itu bisa diberikan secara rutin. Namun, variasi juga diperlukan. Pelukan, membuatkan susu hangat sebelum tidur, menemaninya tidur, atau membantunya merapikan perlengkapan sekolah, juga bisa menjadi alternatif.

Selamat mencoba!

Referensi :
Sanders, Mathew R.. 1992. Every Parent: A Positive Approach to Children’s Behavior.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

75 + = 85