Sahabat CC, minggu ini sebagian besar anak-anak kita masuk sekolah setelah menikmati liburan tengah tahun. Ada yang baru pertama masuk TK, SD, SMP, atau SMA. Ada pula yang naik kelas dan akan belajar di kelas yang baru. Dua keponakan saya kebetulan juga sama, yang satu baru masuk SD sementara satunya baru masuk TK. Nah, perubahan lingkungan, teman-teman, guru, hingga sistem belajar, kadang menjadi tantangan tersendiri untuk mereka. Bagaimana mereka menyesuaikan diri dan dapat mengikuti kegiatan di sekolah dengan lancar? Salah satu faktor penentunya adalah kemampuan beradaptasi.

Apa yang dimaksud dengan kemampuan beradaptasi?

Kata ‘adaptation’ sendiri muncul di awal abad ke-17, berawal dari bahasa latin ‘adaptare’. Kemampuan beradaptasi pada anak mengacu pada seberapa cepat anak menyesuaikan diri dengan perubahan yang dihadapinya setelah ada respons awal, dan seberapa baik mereka memodifikasi respons tersebut.

Contohnya, saat anak pertama kali masuk sekolah atau memasuki kelas yang baru, tentu ada sejumlah perubahan yang harus mereka hadapi. Respons awal anak bentuknya bervariasi, ada yang menolak, menangis, takut, namun ada pula yang senang, bersemangat, spontan bergabung, dan sebagainya. Kemampuan beradaptasi dilihat dari seberapa cepat dan baik anak mengubah responsnya dalam menerima kondisi perubahan tersebut.

Seberapa baikkah kemampuan beradaptasi anak saya?

Setiap manusia sebetulnya dibekali dengan kemampuan beradaptasi sebagai caranya untuk survive, yang membedakan adalah seberapa cepat dan bagaimana ia dapat mengelola dirinya untuk menyesuaikan diri.

Selain melalui observasi, mari kita jawab beberapa pertanyaan di bawah ini untuk memperkirakan kemampuan beradaptasi anak kita.

  • Saat anak kita sedang asyik bermain sesuatu, apakah ia cenderung menangis dan kesal saat kita memintanya untuk berhenti dan melakukan hal lain?
  • Apakah anak kita tidak suka diberi kejutan?
  • Apakah anak kita kelihatan bingung dan tertekan saat rutinitasnya diubah?
  • Apakah kita seringkali harus memaksa atau membujuk anak kita (bahkan hingga berhari-hari) saat memintanya terlibat dalam suatu kegiatan yang baru?
  • Apakah anak kita sulit menentukan pilihan, dan setelah ia memilih terkadang ia merasa menyesalinya?

Jika jawaban Anda sebagian besar adalah ya, maka anak Anda diperkirakan termasuk anak yang memerlukan waktu yang lebih lambat untuk beradaptasi, istilahnya slower to adapt. Reaksi awal mereka terhadap perubahan biasanya adalah menolak, kesal, atau menangis. Mereka juga seringkali secara spontan menolak ide-ide baru yang asing bagi mereka. Hal lain yang bisa diamati juga saat mereka bertemu dengan orang-orang baru, biasanya mereka memerlukan waktu yang lebih lama untuk terbiasa dengan orang tersebut dan baru akhirnya merasa nyaman. Sisi baiknya, kemampuan anak-anak ini sangat baik dalam hal-hal yang bersifat rutin dan dapat diprediksi, dan merekapun lebih berhati-hati saat menghadapi situasi baru yang belum diketahui apakah aman atau berbahaya.

Sementara jika jawaban Anda sebagian besar adalah tidak, maka anak Anda bisa jadi tergolong ke dalam anak-anak yang lebih cepat beradaptasi. Mereka cenderung lebih mudah dalam menghadapi transisi dari kegiatan yang satu ke yang lain. Lebih fleksibel terhadap ide-ide baru, dan tampak nyaman berada di lingkungan yang berbeda dengan rutinitas biasanya. Namun, anak-anak ini juga bisa lebih impulsif dan bereaksi spontan, sehingga mereka memerlukan arahan untuk menahan diri dan berpikir dahulu sebelum bertindak.

Apakah kita dapat membantu mereka meningkatkan kemampuan beradaptasinya?

Kemampuan beradaptasi memang bersifat bawaan, artinya lingkungan memberikan pengaruh yang sangat sedikit, atau bahkan tidak ada sama sekali. Namun, kita dapat membantu anak-anak untuk memudahkan proses adaptasinya. Mari kita simak bagaimana caranya:

1Menerima dan memahami dengan baik bagaimana anak kita bereaksi terhadap perubahan. Apakah ia termasuk anak yang slower to adapt atau sebaliknya. Penerimaan dan pemahaman ini penting supaya kita dapat memberikan dukungan yang tepat kepada anak.

2Meskipun dunia penuh dengan hal-hal yang tidak dapat diprediksi, namun siapkanlah anak untuk hal-hal yang telah kita ketahui sebelum terjadi. Misalnya mengenai sekolah yang baru, atau rencana liburan bulan depan yang harus ditunda, atau kepindahan keluarga ke kota lain. Dengan mendapat informasi atau peringatan awal, anak memiliki lebih banyak waktu untuk menyiapkan diri dan akan lebih mudah membiasakan diri dengan perubahan tersebut nantinya.

3Dampingi anak saat ia merasa tidak nyaman dengan perubahan yang tiba-tiba. Jelaskan mengapa perubahan itu terjadi dan bagaimana ia dapat menyesuaikan diri secara perlahan-lahan. Berikan waktu agar ia merasa terbiasa dan hindari memaksa anak langsung dapat menyesuaikan diri. Memberikan kata-kata penyemangat juga ada manfaatnya, misalnya “Tidak apa-apa sekarang merasa takut, tapi nanti kamu juga akan terbiasa.”, atau “Ibu bangga pada Kakak karena sudah mau masuk ke kelas, Ibu yakin besok-besok sudah tidak perlu ditemani Ibu lagi.”, dan sebagainya.

4Perubahan sering kali berarti keluar dari zona nyaman, memasuki wilayah yang tidak diketahui, hingga merasa tidak percaya diri dengan hal yang baru. Untuk membantu agar proses transisi berjalan mulus, jangan menghilangkan 100% hal-hal yang ada di rutinitasnya sebelumnya. Siapkan benda-benda yang disukai anak dan selalu membuatnya nyaman. Misalnya saat ia baru pertama kali masuk sekolah, mainan kesayangannya mungkin bisa dibawa. Atau bila kita ingin memperkenalkan menu makanan baru, pertama-tama dapat dikombinasikan dengan makanan kesukaannya dulu.

Untuk anak-anak yang cenderung lebih cepat beradaptasi, berikan mereka arahan tentang lingkungan barunya. Misalnya di sekolah, apa yang bisa mereka tiru dari teman-temannya dan apa yang tidak, bagaimana mereka menaati aturan yang ada di sekolah baru, dan lainnya.

6Kemampuan beradaptasi juga berkaitan erat dengan pengelolaan emosi dan bagaimana anak mengekspresikan apa yang ia rasakan. Misalnya ia merasa tidak nyaman dengan sekolah barunya karena kehilangan teman-teman di kelas sebelumnya, ajak ia untuk bicara dari hati ke hati. Tenangkan ia dengan mengatakan bahwa ia masih dapat bermain dengan teman lamanya di luar sekolah, dan di sekolah yang barupun ia akan mendapatkan teman-teman lain. Bila komunikasi dan ikatan kita dengan anak terjalin dengan baik, ia memiliki kita sebagai tempatnya bercerita dan berkeluh kesah. Dengarkan kekhawatirannya, dan berikan dukungan untuk membuatnya lebih mudah menyesuaikan diri.

7Untuk anak-anak kita yang menghadapi perubahan di sekolah, peran guru menjadi penting. Jalin kerjasama dan komunikasi yang baik dengan guru agar proses transisi yang dihadapi anak dapat berjalan lebih mulus. Misalnya, orang tua dapat memberikan informasi mengenai hal-hal apa yang dapat membuat anak nyaman, dan sebaliknya guru juga dapat menyampaikan kepada orang tua mengenai kemajuan anak di sekolah terkait penyesuaian dirinya.

Sahabat CC, semoga tips dan informasi ini dapat membantu anak-anak kita untuk lebih mudah menyesuaikan diri. Kemampuan ini tidak hanya bermanfaat untuk diri mereka sekarang, namun juga membantu mereka menghadapi berbagai tantangan di masa depan. Saya akan tutup artikel ini dengan sebuah kutipan termashyur dari Charles Darwin ;

“It is not the strongest species that survives, nor the most intelligent that survives. It is the one that is the most adaptable to change.”

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here