Tanggal 26 Agustus 2016 lalu, Children Cafe diundang untuk mengisi sesi knowledge sharing di Otoritas Jasa Keuangan Kantor Regional 2 Jawa Barat. Topiknya menarik, yaitu parenting untuk ibu bekerja. Bukan sebuah topik baru, namun hingga kini masih hangat diperbincangkan.

Di beberapa media sosial kita dapat menemukan hashtag stopmomwars atau stopmommywars yang bicara tentang seringkali ibu-ibu saling menghakimi satu sama lain karena berbeda dalam hal pengasuhan. Mulai dari pilihan untuk menyusui atau tidak, mengajarkan calistung sejak kecil atau setelah usia tertentu, memberikan imunisasi atau tidak, hingga pilihan untuk tetap bekerja atau menjadi full-time mom. Gerakan ini mengajak kita untuk menghargai pilihan masing-masing orang.

Penting untuk datang dengan pikiran terbuka bahwa peserta yang hadir di acara knowledge sharing tersebut sudah menetapkan pilihan untuk menjadi wanita karir, dan keputusan tersebut tidak untuk dihakimi. Seorang peserta wanita mengaku memilih bekerja untuk meningkatkan karirnya dan menambah penghasilan, sementara seorang peserta pria membolehkan istrinya bekerja karena  mereka sepakat sang istri boleh terus bekerja setelah menikah. Wanita bekerja dengan motif dan pertimbangannya masing-masing, dan setiap keputusan tentu diikuti dengan konsekuesi.

Ya, diluar perannya sebagai ibu, wanita bekerja juga memiliki tanggung jawab lain yaitu menyelesaikan pekerjaannya. Tantangan yang harus ditaklukkan adalah bagaimana menyeimbangkan peran-peran tersebut agar sang ibu bisa menjalankannya dengan baik, seimbang, dan hasilnya sesuai harapan.

Nuri Indira Dewi, psikolog anak dari childrencafe.com menjabarkan pentingnya mengatur waktu secara seimbang, antara waktu bekerja, waktu untuk anak, dan waktu untuk diri sendiri.

Me time” termasuk bentuk perhatian pada kebutuhan individual seorang ibu bekerja.

Me time” tidak dilarang, selama waktunya proporsional dan tidak membuat ibu meninggalkan tanggung jawabnya yang lain. Pada kesempatan tersebut, Children Cafe mengundang pula Aviana Astari, M.Psi yang berbagi mengenai mengapa seorang ibu bekerja juga harus peduli pada kesehatan fisik dan mentalnya. Untuk dapat menjalankan perannya secara optimal, seorang ibu jangan sampai kewalahan dan harus mampu mengelola stres. Ibu bekerja disarankan untuk melakukan kegiatan yang disukainya, melakukan teknik-teknik relaksasi, dan rajin berolahraga. Sempat pula dijabarkan mengenai tipe kepribadian hardiness yang berfokus pada commitment, control, dan challenge dalam menghadapi stres.

Porsi dan waktu yang dialokasikan untuk rumah, kantor, dan kebutuhan pribadi diatur sesuai dengan kondisi masing-masing. Yang ditekankan di sini adalah, waktu yang pendek namun berkualitas dengan anak jauh lebih baik daripada memiliki banyak waktu namun tidak dimanfaatkan secara maksimal.

 

Mari kita lihat beberapa kunci pengasuhan untuk ibu bekerja

  1. Terima dulu kondisi kita sebagai ibu yang bekerja. Pikirkan secara sadar mengapa kita memutuskan untuk bekerja dan siapkan diri kita untuk menjalani beberapa peran sekaligus. Hapus kekhawatiran atau rasa bersalah yang dapat berujung pada stres, dengan mengubah mindset bahwa kita dapat menemukan solusi dari masalah-masalah yang mungkin saja muncul di kemudian hari.
  2. Alokasikan waktu kita untuk mengasuh anak, untuk bekerja, dan untuk menjaga kesehatan fisik dan mental. Upayakan bekerja seefektif dan seefisien mungkin agar pekerjaan selesai pada waktunya dan kita tidak perlu lembur atau membawa pulang pekerjaan. Waktu pribadi dapat kita atur sedemikian rupa, tidak harus setiap hari atau tidak hanya di akhir pekan saja. Kita bisa memanfaatkan waktu istirahat di kantor untuk mendengarkan musik yang kita sukai atau sebelum tidur kita sempatkan membaca novel favorit kita. Bagi sebagian orang, bercengkrama dengan rekan-rekan kantor di jam istirahat juga dirasakan sebagai waktu pribadi.
  3. Sependek apapun waktu yang kita miliki bersama anak, penting untuk membuatnya berkualitas. Quality time bukan hanya saat kita mendampingi anak belajar, atau saat ngobrol bersama di meja makan, atau jalan-jalan sekeluarga di akhir pekan. Memeluk anak sebelum tidur dan membisikkan kata sayang juga bentuk quality time, memandikan anak dan mendengarnya bercerita mengenai harinya di sekolah juga dapat mendekatkan hubungan kita dengan anak, begitu pula dengan membolehkan anak membantu kita menyiapkan makan malam, dan sebagainya. Pilihan kegiatan yang sesuai dengan minat anak juga akan membuat anak merasa lebih dipehatikan. Selain mendekatkan hubungan ibu dengan anak, quality time juga memberi ibu banyak informasi mengenai perkembangan anak, dan bagaimana kita bisa berperan dalam stimulasinya.
  4. Meski bekerja, sebagai ibu kita juga wajib mengetahui perkembangan anak kita. Jangan ragu untuk mencari informasi mengenai tahapan perkembangan sesuai usianya dari sumber-sumber yang terpercaya, dan lihat apa yang bisa kita lakukan pada waktu kita bersama anak. Jika anak sudah sekolah, kita perlu menjalin komunikasi yang baik dengan gurunya. Saling berbagi informasi agar pengajaran yang diberikan selaras dengan stimulasi yang bisa kita berikan di rumah.
  5. Kenali dan bangun support system. Dengan adanya support system, apa yang tidak bisa diberikan ibu saat sedang bekerja, bisa tetap didapatkan oleh anak. Suami diharapkan dapat menjadi pendukung utama dalam hal pengasuhan pada anak. Bersama-sama merumuskan bagaimana membesarkan anak dan saling berbagi tugas. Peran ayah dalam perkembangan anak juga tidak kalah besar, diantaranya sebagai penegak struktur/ aturan, teladan untuk berprestasi dan berani berkompetisi, dan lainnya.
  6. Keluarga, sahabat, dan bahkan teman kantor juga dapat menjadi sistem pendukung kita. Kehadiran mereka sangat terasa saat kita membutuhkan bantuan untuk menjaga anak, solusi dari masalah yang muncul, atau sekedar motivasi. Mencari dan memilih day care, sekolah, atau baby sitter yang satu visi dan misi dengan kita dalam hal pengasuhan, juga dapat membantu anak tetap mendapatkan stimulasi yang dibutuhkannya.

Demikian beberapa kunci dasar pengasuhan yang dapat diterapkan oleh ibu bekerja. Sesi knowledge sharing sore itu ditutup dengan sebuah video yang menyentuh. Pesan yang coba disampaikan adalah, meskipun ibu bekerja sering kali merasa bersalah, merasa tidak cukup baik dalam mendidik dan membesarkan anak, namun bagi anak-anak ternyata ibu tetap menjadi idola mereka, dan yang penting adalah senyum dan wajah bahagia yang ditunjukkan sang ibu saat mereka bersama.

Semoga bermanfaat.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

− 5 = 5