Kali ini saya ingin bertanya pada para ibu, kapan terakhir kali Anda melakukan hobi Anda? Sebagai seorang ibu, kita disibukkan dengan berbagai urusan. Mulai dari mendampingi suami, mengurus anak, memastikan rumah nyaman untuk ditinggali, menyiapkan makanan untuk keluarga, dan masih banyak lagi. Belum lagi kalau kita adalah ibu bekerja, kita juga harus pintar mengatur waktu untuk membereskan semuanya. Lalu urusan hobi pribadi bagaimana? Nah, kali ini kita akan bicara tentang “me time”.

Banyak yang bilang, me time itu cuma ada di teori saking sulitnya untuk didapatkan. Ada betulnya juga sih.. coba kita cek jadwal kita dalam 24 jam. Memangnya ada waktunya si kecil membiarkan kita sendiri? Kadang baru 5 menit kita di kamar mandi sudah dipanggil-panggil. Atau saat lagi sibuk di dapur, si kakak tiba-tiba minta ditemani mengerjakan peernya. Saat weekend tiba, inginnya anak-anak diasuh oleh ayahnya, eh.. ternyata si kecil merengek minta ditemani bundanya. Bye-bye me time..

Ibu bekerja beda lagi tantangannya. Pagi hari bersiap ke kantor sekaligus menyiapkan keperluan anak dan suami. Pulang kantor juga jangan harap bisa langsung istirahat.. ada keluarga yang harus diperhatikan dan urusan rumah yang perlu diselesaikan. Pokoknya, istilahnya ga usah mimpi deh bisa punya me time!

Capek? Pasti.. Stres? Nah.. itu yang harus kita cegah.

Me time itu terasa sulit karena tidak datang dengan sendirinya, melainkan harus diusahakan. Sahabat, mungkin kita bisa mencoba beberapa cara ini untuk mendapatkan me time.

Pertama, atur waktu dan rencanakan jadwal kita dengan baik. Paling tidak bagi dua waktu kita, menjadi: waktu yang fixed atau pasti, dan waktu yang fleksibel. Di waktu fixed, buat jadwal rutinitas yang perlu dijalani dengan konsisten. Rutinitas ini berfokus pada kebutuhan dasar anak dan suami. Misalnya bangun pagi, mandi, menyiapkan pakaian anak dan suami, menyiapkan sarapan, dan seterusnya. Jika pada waktu-waktu rutin ini keperluan suami dan anak sudah terpenuhi, maka waktu fleksibel kita dapat dimanfaatkan untuk hal-hal lain, termasuk me time. Dengan memastikan bahwa kebutuhan anak dan suami sudah selesai, maka kita juga bisa menikmati me time tanpa rasa bersalah.

Kedua, rancang rutinitas harian anak. Sahabat, rutinitas sangat dibutuhkan oleh anak-anak agar mereka belajar mengatur diri dan waktunya. Anak akan terbiasa membuat rencana dan lebih disiplin karena tahu apa yang terjadi selanjutnya dan mereka dapat mempersiapkan diri. Salah satu contoh adalah menentukan waktu untuk bermain bebas. Misalnya, setelah setelah makan pagi, anak boleh bermain bersama ibu selama 20 menit, setelah itu bermain bebas selama 20 menit. Nah, selama anak bermain bebas, ibu dapat memanfaatkan waktu tersebut untuk melakukan kegiatan lain, seperti me time. Sebagai catatan, meskipun namanya bermain bebas, namun tetap perlu ada aturannya ya Sahabat, misalnya harus berada di ruangan yang sama dengan ibu, tidak memainkan benda tajam dan berbahaya, dan seterusnya. Ketika anak-anak sudah memiliki rutinitas dan secara otomatis melakukannya, ibu menghemat waktu untuk selalu mengingatkan atau mengawasi anak setiap saat. Apalagi kalau anak mempunyai rutinitas tidur yang teratur baik siang maupun malam, ibu jadi lebih mudah mengatur waktunya, terutama untuk me time.

Oya, pembahasan mengenai daily routine sudah pernah ditulis di artikel “Yuk, Bantu Anak Mengatur Waktu”. Silakan dibaca ya, Sahabat.

Ketiga, pikirkan hal-hal sederhana yang mampu membuat kita bersemangat dan mood kita membaik. Misalnya berolahraga ringan selama 15 menit, membaca buku favorit, menyeruput minuman kesukaan, berjemur di pagi hari, atau nonton drama Korea, menengok dan menyiram monstera di halaman, dan sebagainya. Bahkan untuk ibu yang super sibuk, mandi dengan tenang selama 15 menit saja sudah bisa meningkatkan mood kita lho. Hal-hal ini relatif mudah dilakukan dan tidak memerlukan waktu yang lama. Ibu bisa melakukannya di rumah sambil tetap dekat dengan anak.

Ya, tentu saja kita juga kangen jalan-jalan sendiri, menghabiskan waktu untuk shopping, creambath di salon, merajut atau melukis berjam-jam, mungkin juga bersepeda, bahkan naik gunung. Namun jika belum memungkinkan, hal-hal sederhana tadi sudah cukup menjaga agar stres menjauh.

Keempat, cari bantuan. Kita tidak sendiri Sahabat, minimal ada suami yang bisa dimintai bantuan. Jika sepulang kantor ia sudah lelah dan tak sempat bermain dengan anak, boleh lah minta ia menemani anak-anak di akhir pekan. Kalau anak sulung kita sudah agak besar, ia juga bisa diminta menjaga adiknya di waktu-waktu tertentu, atau membantu kita bersih-bersih rumah. Jangan lupa apresiasi dan berikan ucapan terima kasih yang tulus. Kalau suami Anda sangat pengertian dan bahkan membolehkan Anda untuk ke salon sementara ia yang menjaga anak-anak, bersyukurlah karena itu jauh lebih baik daripada Anda memenangkan undian 🙂

Ibu bekerja bisa mencoba memanfaatkan waktu luang di sela-sela pekerjaan untuk me time. Misalnya menyeduh teh sejenak sebelum memulai rapat, sengaja mengajak teman yang kocak untuk menemani makan siang, atau cek sosmed sebentar saat jam istirahat. Saat di rumah, manfaatkan waktu ketika anak-anak sudah tidur atau sedang punya aktivitas masing-masing, dan tentu saja sisihkan sedikit waktu di akhir pekan untuk kegiatan pribadi Anda. Kalau misalnya marathon drakor belum bisa, nonton 1 episode dulu rasanya cukup untuk bikin Anda sejenak melupakan urusan pekerjaan dan rumah. Hasilnya, kita lebih bahagia karena hidup lebih seimbang.

Bagaimana Sahabat CC, apakah Anda merasa bisa mencoba langkah-langkah tadi? Saya percaya, me time tidak datang dengan sendirinya, tapi harus dimunculkan. Selamat mencoba!

Image by Engin Akyurt from Pixabay

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

44 − = 40